Kunjungi Juga fzdrama :: Drama Edition
(fzpoint versi drama)
Rincian, Sinopsis, Pemain dan info lainnya dari Drama Televisi.

Kunjungi Juga fzlite :: Lite Edition

Tinggalkan komentar pada artikel yg anda baca
Google Account : Untuk pengguna Google
LiveJournal : untuk pengguna LiveJournal
WordPress : Untuk pengguna wordpress
TimePad : untuk pengguna timepad
AIM : untuk pengguna AIM
OpenID : untuk pengguna OpenID
Tidak menggunakan apapun?
Tulis di ShoutMix, atau Gabung di Grup facebook

fzpoint Search

Karena Ku Sayang Kamu | by.Dygta

Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Juni 2010

God Make Me A TV

A teacher from Primary School asks her students to write a essay about what they would like God to do for them… At the end of the day, while marking the essays, she read one that made her very emotional.
Her husband, who had just walked in, saw her crying and asked her:- ‘What happened?’

She answered- ‘Read this. It is one of my students’ essay.’

‘Oh God, tonight I ask you something very special:

Make me into a television. I want to take its place and live like the TV in my house.

Have my own special place, and have my family around ME.
To be taken seriously when I talk….
I want to be the centre of attention and be heard without interruptions or questions.
I want to receive the same special care that theTV receives even when it is not working.
Have the company of my dad when he arrives home from work, even when he is tired.
And I want my mom to want me when she is sad and upset, instead of ignoring me…
And… I want my brothers to fight to be with me…
I want to feel that family just leaves everything aside, every now and then, just to spend some time with me.
And last but not least, ensure that I can make them all happy and entertain them…
Lord I don’t ask you for much… I just want to live like a TV.’

At that moment the husband said: – ‘My God, poor kid. What horrible parents!’

The wife looked up at him and said: – ‘That essay is our son’s!!!

w/ Bahasa Indonesia :

Seorang guru dari sekolah dasar meminta murid2nya untuk membuat sebuah essay tentang apa yang ingin Tuhan lakukan untuk mereka . Pada hari akhir , saat menandai essay , dia membaca salah satu essay yang membuatnya sangat emosional . suaminya yang baru saja masuk , melihat istrinya menangs dan bertanya "apa yang terjadi ?"

dia menjawab "baca ini , salah satu essay dari muridku" .

oh tuhan malam ini aku memohon kepadaMu sesuatu yang sangat spesial , buatlah aku menjadi TV . aku ingin mengambil tempat dan hdup seperti TV dirumahku . mempunyai tempat yang istimewa dan ada keluarga yang selalu ada di sekelling AKU .

menjadi serius ketika aku Berbicara .

aku ingin menjadi pusat perhatian dan didengarkan tanpa ada interupsi atau pertanyaan .

aku ingin menerima perlakuan khusus yang sama seperti TV sekalipun it rusak .

menemani ayahku saat dia baru pulang kerja bahkan saat dia kelelahan .

dan aku mau ibuku menginginkanku saat dia sedih dan bingung , bukannya malah mengabaikanku .

dan aku ingin sodara2ku berjuang untuk bersamaku .

aku ingin merasakan keluargaku meninggalkan masalah , sekarang dan nanti hanya untuk menghabskan waktu bersamaku .

and at last but not least , memastikan bahwa aku bisa membuat mereka semua senang dan ceria .

Tuhan aku tidak banyak memnta , aku hanya ingin hidup seperti TV'

Pada saat it suaminya berkata , "oh Tuhan , anak yang malang . Orang tuanya sangat mengecewakan !"

Istrinya menatapnya dan berkata , "essay ini adalah milik anak kita !!

Jumat, 02 April 2010

The Reason Of The Existence Of Sexual Deviation And How To Solve It (Alasan Dari Keberadaan Penyimpangan Seksual Dan Cara Untuk Menyelesaikan ini)

Ada penelitian yang menyatakan, Gay & Lesbian itu ada karna faktor gen dan hormonal seseorang. Ada juga yang menyatakan, itu karna faktor pengaruh lingkungan. Menurutmu, gay & lesbian itu ada karna faktor apa? Pengen tau, kan? Berikut ini wawancara kami dengan Kristianto Batuadji, S.Psi., M.A Dosen Psikologi Universitas Surabaya.

Berdasarkan data, ada peneltian yang mengatakan bahwa lesbian dan gay itu dikarenakan faktor gen, sedangkan penelitian lainnya mengatakan faktor penentunya adalah lingkungan. Menurut Pak Kristian, faktor penentu gay dan lesbian itu apa?

Secara biologis, faktor-faktor seperti anatomi syaraf dan ketidakseimbangan hormonal dapat berpengaruh terhadap orientasi seksual seseorang. Di lain pihak, orientasi seksual juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan.

Suatu ketika, seorang sahabat datang pada saya. Sebagai seorang perempuan, ia merasa memiliki kecenderungan orientasi seksual yang menyimpang. Setelah saya coba untuk menelusuri masa lalunya, ternyata ia memiliki riwayat pengalaman traumatik dengan ayahnya yang otoriter.

Ketakutannya terhadap figur ayah inilah yang menjadi benih penyimpangan orientasi seksualnya. Selalu timbul kecemasan dalam batinnya, setiap kali hendak menjalin hubungan dengan laki-laki. Lama kelamaan, ketakutannya terhadap laki-laki ini berkembang menjadi ketertarikan erotis terhadap sesama perempuan.

Pada kasus ini, kita dapat melihat bahwa faktor lingkungan lebih berperan dalam membentuk orientasi seksualnya. Akan tetapi, pada beberapa kasus, kita juga menjumpai kecenderungan orientasi seksual menyimpang yang diakibatkan oleh faktor biologis.

Misalnya, ketika seorang laki-laki kelebihan hormon perempuan, maka hal ini dapat mempengaruhi orientasi seksualnya, sehingga memungkinkan ia menjadi biseksual. Jika kondisi ini diikuti dengan kurangnya hormon laki-laki, maka ada kemungkinan ia menjadi homoseksual.

Menurut saya, baik faktor biologis maupun faktor genetik, keduanya berpengaruh dalam penentuan orientasi seksual seseorang. Besar kemungkinan hasil-hasil penelitian kuantitatif yang ditemukan belum mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Akibatnya, ada data-data yang saling bertentangan.

Nah, kalo sudah begitu, berarti sudah saatnya bagi kita untuk melakukan tinjauan personal terhadap kasus semacam ini. Artinya, kita tidak lagi mencari kecenderungan umum yang menyebabkan orientasi seksual menyimpang, tetapi lebih pada usaha untuk melakukan penggalian secara kualitatif, mengapa seseorang lebih tertarik secara seksual terhadap mereka yang sejenis, daripada terhadap lawan jenis? Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa faktor penyebab pada tiap individu sangat unik dan sulit digeneralisasi.

Apakah komunitas gay/ lesbi itu dianjurkan? Bukankah itu malah membuat mereka semakin menjadi?

Dalam konteks Indonesia, menurut saya, komunitas gay dan lesbian ini apabila dibina dengan baik, dapat menjadi suatu dukungan sosial bagi kaum gay dan lesbian. Permasalahannya adalah, kita ini hidup di lingkungan masyarakat yang masih belum bisa menerima fenomena homoseksual sebagai suatu hal yang wajar. Akibatnya, kaum gay dan lesbian di Indonesia dan kebanyakan negara di belahan dunia timur mengalami tekanan dari lingkungan sosialnya.

Muncul suatu stigma terhadap kaum gay dan lesbian. Mereka dibuang dan dikucilkan sebagai sampah masyarakat, sehingga mereka hampir-hampir tidak mampu lagi mengembalikan kepercayaan diri (self confidence) dan penghargaan terhadap dirinya sendiri (self esteem). Di sinilah seharusnya peran komunitas-komunitas gay dan lesbian untuk mengambalikan kepercayaan diri dan harga diri mereka, sehingga bisa berkembang secara optimal sebagai pribadi yang berharga di mata Tuhan dan sesama manusia.

Celakanya, masyarakat kita juga masih banyak yang serta merta mengatasnamakan Tuhan dan menggunakan dogma-dogma keagamaan untuk menghakimi mereka. Padahal Kitab Suci telah mengajarkan agar kita tidak menghakimi. Ambil saja contoh ketika Yesus mencegah orang-orang Yahudi melempari seorang pelacur dengan batu. "Barangsiapa merasa dirinya tak berdosa, bolehlah ia melemparkan batu pertama kali!"

Di lain pihak, saya setuju bahwa komunitas ini mungkin saja menjadikan jumlah kaum gay dan lesbian semakin berkembang, apabila mereka menjalankan fungsi secara tidak proporsional. Kembali pada kasus sahabat saya di Yogyakarta yang saya ceritakan di awal. Kecenderungan homoseksualnya semakin menjadi ketika ia bertemu dengan sesama lesbian.

Ketika komunitas gay dan lesbian menjalankan "fungsi misionaris" alias mengadopsi sistem "multi-level marketing". Artinya, komunitas-komunitas ini perlu dibina untuk menjalankan fungsinya secara proporsional, yaitu memberikan dukungan sosial untuk mengembalikan kepercayaan diri dan harga diri kaum gay dan lesbian sebagai kaum minoritas yang tertindas.

Namun ketika komunitas ini beralih fungsi menjadi semacam "Biro Agitasi dan Propaganda" untuk mempromosikan homoseksualitas sebagai suatu gaya hidup, maka ruang gerak mereka perlu dibatasi. Karena hal ini dapat menjadi suatu teror terhadap kaum heteroseks. Perasaan terancam yang dialami kaum heteroseks ini antara lain tergambarkan pada plesetan iklan sabun colek kira-kira sepuluh tahun yang lalu, di mana maskot "secolek OMO" diplesetkan menjadi "dicolek homo".

Jadi, jika menanyakan apakah komunitas-komunitas semacam ini diperlukan, maka jawaban saya adalah "ya", tetapi diperlukan usaha-usaha untuk melakukan pembinaan terhadap kelompok-kelompok tersebut, agar dapat menjalankan fungsinya secara proporsional.

Gay & Lesbian ternyata tidak bisa disebut sebagai penyakit kejiwaan. Namun lebih cocok disebut sebagai gangguan yang lebih menggambarkan kondisi mental. Cara penyembuhan gay dan lesbi adalah dengan cara Psikoterapi. Namun cara penyembuhan ini tergantung latar belakang dari si kaum homo/ lesbi tersebut. Berikut ini wawancara kami dengan Kristianto Batuadji, S.Psi., M.A Dosen Psikologi Universitas Surabaya.

Menurut penelitian American Psychological Association, gay itu bukanlah penyakit kejiwaan/ emosional, melainkan sebuah pilihan penyimpangan seksual. Menurut Pak Kristian?

Saya kurang setuju dengan istilah penyakit kejiwaan. Istilah "psychological disorder" apabila diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, menjadi "gangguan jiwa", bukan "penyakit jiwa". Dalam hal ini, dibedakan antara "disorder" (gangguan) dengan "disease" (penyakit). Pengertian disease lebih mengarah pada penyakit fisik, sedangkan disorder digunakan untuk menggambarkan kondisi mental.

Pada edisi keempat, buku pedoman diagnosis gangguan jiwa di Amerika yang disebut Diagnostic and Statistical Manual (DSM) sudah tidak lagi menggolongkan homosekualitas sebagai gangguan jiwa. Menurut saya, pertimbangan American Psychological Association (APA) menetapkan homoseksualitas bukan sebagai gangguan jiwa sangat beralasan.

Suatu kondisi mental dapat dikatakan sebagai gangguan, bukan karna didasarkan pada faktor statistik seperti yang sudah saya jelaskan di artikel sebelumnya. Kondisi mental tertentu dapat dikatakan sebagai gangguan, apabila kondisi mental tersebut memunculkan perilaku yang mengganggu lingkungan.

Jadi, jika seorang gay atau lesbian menjalani kehidupan seksual dengan sesama gay/lesbian tanpa mengganggu orang lain, hal ini tidak dapat dikatakan sebagai suatu gangguan, melainkan hanya dipandang sebagai perbedaan orientasi seksual semata-mata.

Tetapi apabila ia mulai menjadikan orang-orang heteroseksual sebagai objek pelampiasan nafsu seksualnya, hal ini dapat dikatakan mengganggu. Sekalipun demikian, perlu saya garisbawahi bahwa hal ini hanya berlaku dalam konteks peradaban barat, khususnya masyarakat Amerika.

Dalam konteks Asia, kita perlu mempertimbangkan faktor-faktor sosio-kultural yang mempengaruhi penilaian normal-abnormal terhadap perilaku tertentu. Faktor-faktor sosio-kultural tersebut misalnya budaya dan agama, yang sangat kecil pengaruhnya dalam masyarakat sekuler seperti di Amerika, sehingga kita tidak bisa langsung mengadopsi kriteria DSM dalam konteks Indonesia, untuk kasus gay dan lesbian ini.

Tapi, hal ini bukan berarti suatu alasan pembenaran untuk mendiskreditkan kaum gay/lesbian, apalagi serta merta menggunakan dogma-dogma agama untuk memfatwa mereka sebagai orang berdosa. Saya kira hal ini tidak mendatangkan manfaat apa-apa, bahkan bisa mendatangkan kerugian bagi mereka.

Menurut Pak Kristian, apakah gay/ lesbi itu bisa disembuhkan? Bagaimana caranya? (secara psikis)


Jika kita menggunakan istilah "sembuh", artinya kita terjebak pada paradigma bahwa homoseksualitas adalah suatu penyakit (disease). Padahal seperti telah saya jelaskan sebelumnya, bahwa homoseksualitas bukanlah suatu penyakit. Pada konteks tertentu, homoseksualitas dapat dikatakan sebagai gangguan (disorder), namun pada konteks lain tidak demikian. Jadi menurut saya, yang paling tepat bukan usaha "penyembuhan", tetapi lebih pada "pemulihan", jika hal itu dipandang sebagai gangguan.

Beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa belum ada psikoterapi yang sungguh-sungguh efektif untuk mengubah orientasi seksual seseorang. Menurut saya, psikoterapi memang tidak efektif untuk mengubah orientasi seksual, tetapi psikoterapi dapat memulihkan orientasi seksual.

Psikoterapi juga bermanfaat untuk memulihkan kepercayaan diri dan harga diri kaum homoseksual yang terenggut dari mereka, akibat perlakuan masyarakat yang memarginalkan dan mendeskrsditkan mereka. Usaha pemulihan pasti dapat dilakukan. Tapi, kita perlu membedakan, apanya yang perlu kita pulihkan. Kepercayaan diri dan harga diri mereka saja, atau sekaligus orientasi seksualnya juga?

Ketika seorang sahabat dengan orientasi seksual menyimpang datang pada saya. Pertama-tama saya akan menanyakan, apa yang ia harapkan dari saya? Biasanya mereka mengaku merasa tidak nyaman dengan kondisinya, dan menginginkan agar saya menjadikan mereka seperti orang-orang kebanyakan.

Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, sebagian dari mereka ada yang kemudian mengakui bahwa sesungguhnya mereka merasa nyaman dengan kondisinya saat ini, dan tidak ingin diubah. Mereka hanya butuh dukungan dan penerimaan dari orang-orang sekitar.

Mereka yang ingin dipulihkan orientasi seksualnya, biasanya mengalami perubahaan seksual akibat pengaruh faktor lingkungan, misalnya trauma masa kecil, seperti pengalaman seorang sahabat di Yogyakarta yang saya ceritakan di awal. Memulihkan berarti mengembalikan sesuatu pada kondisi semula. Artinya, yang perlu dipulihkan orientasi seksualnya adalah mereka yang semula heteroseksual, namun berubah menjadi homoseksual karena faktor lingkungan.

Usaha pemulihan dapat dilakukan dengan mengajak mereka untuk berdamai dengan masa lalunya, sehingga mereka dapat menerima pengalaman traumatis yang pernah mereka alami itu sebagai bagian dari masa lalunya. Selanjutnya, secara perlahan-lahan kita dampingi mereka untuk kembali pada orientasi seksualnya yang semula.

Hal ini perlu dilakukan dengan hati-hati dan penuh penerimaan, sehingga mereka jangan sampai merasa berdosa terhadap orientasi seksualnya yang menyimpang. Rasa aman klien perlu ditingkatkan dengan penerimaan tanpa syarat, hanya karena perasaan berdosa. Hal itu menyebabkan mereka tidak percaya diri dan menghargai dirinya sendiri.

Hal ini juga akan membuat mereka merasa terancam dan mencari perlindungan dari kaum homoseksual, sehingga besar kemungkinan usaha pemulihan dapat terganggu oleh pengaruh lingkungan. Kita perlu memberikan lingkungan yang kondusif, sehingga memperkecil kemungkinannya untuk terpengaruh oleh lingkungan yang tidak tepat.

Tapi jika penyebabnya adalah faktor biologis, maka yang diperlukan bukan usaha pemulihan terhadap orientasi seksualnya. Meski gitu, kita tetap saja perlu memulihkan harga diri dan kepercayaan dirinya yang rusak akibat stigma masyarakat. Kita bisa meringankan beban mereka dengan menerima kondisi mereka apa adanya, tidak menghakimi mereka, apalagi dengan embel-embel dosa, dan mengatasnamakan Tuhan.

Penerimaan tanpa syarat ini akan mengembalikan kepercayaan diri dan harga diri mereka, sehingga mereka tetap dapat berfungsi secara optimal dan memberikan sumbangsih bagi kemanusiaan, sekalipun mereka memiliki orientasi seksual yang berbeda.

Gimana guys...apa kamu setuju dengan pernyataan Pak Kristian tentang cara pemulihan gay/ lesbi dengan tidak menghakimi prilaku mereka, namun menerima mereka apa adanya. Sekalipun orientasi seksual gay/ lesbian ada yang dikategorikan latar belakangnya karena gen/ hormon seseorang.

sumber : http://www.facebook.com/note.php?note_id=393786230101

Sexual Deviation (Penyimpangan Seksual)

Kelainan Seksual memang mampu menjadi suatu permasalahan yang sangat menggemparkan di kalangan masyarakat, bahkan baru-baru ini kita juga telah mendengar tentang adanya Konferensi Gay-Lesbian Se-Asia yang rencananya akan diadakan di Surabaya namun akhirnya berhasil digagalkan karena banyak pihak-pihak yang menyatakan ketidaksetujuannnya. Namun bukan berarti kita harus menyingkirkan mereka dari kehidupan masyarakat, kita hanya harus menjaga jarak dengan mereka agar kita tidak terjerumus ke dalam dunia mereka. Sebenarnya hal itu sangat ironis, mereka tidak ingin menjadi seperti itu namun harus menerima jalan hidup yang sedemikian rupa karena hal itu sudah ditentukan. Namun sebagai umat yang beriman, kita wajib berusaha. Selain itu kita juga harus memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar kita tidak dijadikan seperti mereka.
Kita bisa mengubah takdir kita tapi kita tidak bisa mengubah jalan hidup kita.

Gay pada umumnya suka pakai baju ketat, menyukai parfum yang mencolok dan aksesoris yang ramai. Kalo yang lesbi, ciri yang mudah ditebak adalah mereka suka berpenampilan tomboy, namun ada lesbi yang sangat feminim. Apakah dari ciri-ciri ini saja kita bisa mengenali mereka? Ternyata, ada gay dan lesbi yang tak bisa dikenali secara fisik.

Ciri-Ciri Gay

Gay bukan berarti bencong, kalau bencong itu cowok yang merangkap menjadi wanita, sedangkan gay adalah pria namun hati mereka perempuan. Jangan anggap remeh keberadaan mereka karena hadirnya mereka bisa membawa bencana bagi diri sendiri dan orang lain. Sebaiknya kita mengenal ciri2 mereka karena bisa jadi teman anda gay. mari simak ciri-ciri mereka berikut ini :

1. tubuh atletis
Gay biasanya atletis, berotot sana sini, bagi mereka otot yang nimbul ditubuh sama seperti wanita yang menonjolkan payudaranya. Semakin kencang dan besar otot-otot mereka, ia akan percaya diri.

2. Wangi
Wangi disini bukan wangi kembang, bila ada gay wangi kembang berarti tuh gay abis main sama tukang kembang. Tubuh gay memiliki wangi parfum yang eksotik, keringatnya bagaikan setetes parfum armani mahal, ketek mereka tak pernah tercium bau bangke cicak. Bagi mereka wangi adalah segalanya.

3. Tampang Teduh
Biasanya gay memiliki tampang teduh, diwajahnya terdapat pepohonan yang rindang, bila kita melihat dirinya seakan dia tak pernah punya beban masalah. Sorot matanya tajam, seakan matanya berbicara.

4. Suka Belanja
Belanja sudah menjadi hal rutin selain fitnes, berbagai pakaian bermerk dia punya. Bagi gay yang pas-pasan biasanya hobi nongkrong di pasar uler, taman puring atau di parkit untuk nyari koleksi terbaik musim ini.

5. Jago Bicara
Bila gay menemukan pasangannya ia akan pandai bicara, ibarat benda ia seperti koran yang selalu memuat berita aktual seputar bangsa ini. Bila kehabisan topik ia akan mengomentari fisik anda, hati-hati ini adalah awal dia menilai sebuah benda dibalik celana dalam anda.

6. Tatapan dan Colek
Gay akan selalu berkelakuan ekstrim, ketika melihat pria yang ia sukai ia akan menatap tajam dan langsung tertuju pada pantat. Gay paling suka menatap pantat korban, pantat yang berisi adalah hal yang paling mereka sukai, ibarat cowok normal melihat dada wanita. Ketika berada dekat dengan korban ia suka mencolek bokong, bokong sesama jenisnya, dan berucap “hai gay’s”.

7. Perilakunya
Jika mahkluk seperti ini sudah merasa nyaman didekat anda, dia akan berubaha menjadi lembut, halus dan suka menyilangkan kakinya ketika duduk berdua dengan anda. Jarak anda dan dia menjadi hanya 1cm saja, siap-siap anda mendapatkan perlakuan khusus darinya. Seperti di elus-elus dan dimanjakan.

8. Lebih suka menyendiri
Kalau sedang berjalan-jalan di Mall dan melihat seorang pria duduk sembari memainkan gadgetnya, itu bisa saja gay, tandai saja dulu, kalau ia beranjak dari duduknya dan menghampiri anda jangan coba-coba anda meludahinya. Anggap saja anda kedatangan sales penjual dildo. Biasanya gay suka tempat-tempat yang remang dan sedikit musik jazz.

9. Suka film romantis
Salah satu film favorit gay adalah film romantis, seperti titanic, dan romero and juliadi. Dia akan menangis terharu bila ada adegan sedih yang bukan main, air matanya menetes hingga membuat ia mencari lawan main untuk dipeluknya.

10. Akrab dengan wanita
Gay paling akrab dengan wanita, seperti wanita berteman dengan wanita. Bila ia bergaul bersama kaum Adam, ia akan canggung, suka nelen ludah dan menatap pantat. Segala jenis mode yang sedang in di dunia fashion ia sangat paham, lebih paham dari wanita manapun sekelas Paris hilton.

Gay umumnya suka memakai baju yang ketat, biar keliatan lekuk tubuhnya. Karena bentuk body bagi seorang gay adalah nilai jual tersendiri. Umumnya, para gay lebih senang memakai warna mencolok. Saat ngobrol, bisa diketahui melalui gaya bicaranya. Umumnya, para gay ini terlihat sangat feminim dan perhiasan yang dikenakannya pun cenderung "ramai". Katanya sih, itu merupakan alat komunikasi sesama gay.

Para gay juga umumnya suka berpenampilan yang rapi dan terlihat seperti wanita. Ciri lainnya, mereka selalu tertarik pada aktivitas yang biasanya dilakukan wanita. Para homo ini sukanya berpenampilan yang rapi, kebanyakan pake parfum yang baunya norak. Pakaian yang digunakan pun cenderung lain dari yang lain, bahkan kebanyakan norak, agar menarik perhatian.

Pribadi mereka cenderung pendiam, tertutup, nggak suka bergaul dengan banyak orang. Cuman ngomong seadanya dan cenderung lembut. Tapi, banyak juga para gay yang sulit dikenali secara umum, karna mereka cenderung memiliki ciri khas tersendiri. Ada cerita neh, berdasarkan pengalaman seorang teman kami yang pernah didekati oleh seorang gay.

Awalnya, dia tidak tahu kalo sosok teman yang baru dikenalnya itu adalah seorang gay. Karna mereka berkenalan di sebuah tempat fitnes. Gay yang dikenalnya ini memiliki perawakan yang bagus. Tinggi, besar, cakep seperti seorang fitnes trainer gitu. Nggak ada satu pun ciri-ciri di atas yang ditemukan pada sosok pria ini.

Namun, setelah beberapa kali berbincang-bincang dan bergaul dengannya. Teman kami ini baru menemukan suatu kecurigaan pada sosok pria ini. Karena selama ngobrol yang berulang-ulang kali, kedapatan sang pria ini membicarakan hal-hal yang berbau homo. Awalnya memang tidak nampak. Tapi lama-kelamaan, kita kan mengenali dari bahan pembicaraannya. Padahal, sikap dan pakaiannya seperti orang straight loh.

Dari sini kita bisa mengenali bahwa, tidak semua kaum gay itu bisa benar-benar dikenali dari cara pakaian, aksesoris dan gaya mereka. Emang sih, sebagian besar iya. Namun ada gay-gay lain yang terselubung, dan hanya bisa dikenali ketika kita bergaul dengan mereka.

Ciri - Ciri Lesbi

Jika para gay lebih gampang dikenali secara fisik lewat penampilan mereka. Namun lesbi yang sulit untuk dikenali. Memang, ada lesbian yang berpenampilan seperti cowok. Tomboy abis! Tapi, pengenalan ini bukan berarti ciri khas lesbi loh. Ada banyak cewek straight yang berpenampilan tomboy. So, sulit mengenali cewek lesbi.

Nggak semua lesbian berpenampilan tomboy. Kebanyakan lesbian yang tomboy ini merasa, dirinya laki-laki tapi terjebak dalam tubuh perempuan gitu. Banyak juga dijumpai lesbian yang gayanya seperti perempuan normal, cenderung feminim, bahkan lebih feminim dari perempuan straight. Tingkah lakunya mungkin bisa saja lebih halus dari perempuan straight pada umumnya.

Menurut Prof Koentjoro PhD, Guru Besar Psikologi UGM. Lesbian sangat rentan mengonsumsi narkoba. Awalnya, hanya untuk berfantasi dan mencari sensasi. Hal tersebut dilakukan agar mengundang gairah bagi para lesbian lainnya. Namun ciri-ciri khusus dari lesbian ini sukar dikenali, karena mereka masih tertutup. Takut dengan norma yang ada.

Namun ciri umumnya bisa dikenali lewat 2 pribadi lesbi. Pada awal artikel ini udah dijelasin kalo dalam sebuah hubungan lesbi, ada yang jadi butchy (laki-laki), ada yang jadi femme (perempuannya). Nah, yang jadi butchy tuh biasanya berpenampilan tomboy, memposisikan diri sebagai maskulin. Seluruh penampilannya sangat maskulin, punya hobi maskulin pula. Kebanyakan cenderung posesif dan menunjukkan ketertarikan pada wanita. Biasanya, kebanyakan butchy rambutnya potongan cepak.

Kalo yang jadi femme, biasanya penampilannya terkesan dingin. Selalu ketergantungan sama pasangan, nggak mandiri, sering cemas, jaga jarak dengan wanita lain yang bukan pasangannya. Sensi banget dan cool ama laki-laki. Tapi ini bukan ciri yang paten loh, cuman ciri inilah yang kebanyakan muncul.

Berdasarkan pengamatan seseorang yang mempunyai teman lesbi mengatakan, ketika sedang berpacaran, pasangan ini kelihatan mesra, nampak seperti pasangan normal lainnya (cewek & cowok). Kontak fisiknya tuh seperti, si femme selalu ingin dipeluk oleh butchy, dan dia akan merangkul femme penuh kemesraan. Kadang, suap-suapan ato hanya sekedar membelai.

Tapi gaya pacaran mereka lebih mesra dari pasangan straight. Itu karna sama-sama punya jiwa ceweknya.

Sekian ciri-ciri gay & lesbian, memang ada sedikit kesamaan antara gay dengan bencong, tetapi bencong tidak sama dengan gay, karena gay hanya ditakdirkan mencintai sesama bukan ditakdirkan memiliki sifat sesama.

NB: Saya bukan bermaksud untuk berpikiran negatif,tapi hanya ingin memberitahu supaya kita tidak terlalu terjerumus ke dalam dunia gay-lesbian.

sumber : http://www.facebook.com/note.php?note_id=393786230101
Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

Wibiya Widget